Jatam Ungkap Sisi Kelam Tambang Nikel

Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) mengungkapkan cerita lain di balik pertambangan nikel.

Kisah ini dibeberkan setelah produsen mobil listrik asal Amerika Serikat (AS), Tesla Inc, berencana meneken kontrak pembelian nikel sebesar US$ 5 miliar dari hasil tambang di Indonesia.

“Di balik transaksi bisnis antara Tesla dengan dua perusahaan asal Cina terdapat derita berkepanjangan rakyat dan lingkungan yang rusak,” tutur Koordinator Jatam Melky Nahar, melalui siaran pers, Selasa, 9 Agustus 2022.

Aktivitas pertambangan komoditas tersebut terjadi di Sulawesi.

Menurut catatan Jatam, rentetan aktivitas tambang telah memicu bencana banjir bandang yang menyebabkan dua orang meninggal dunia, ratusan rumah penduduk, dan bangunan pemerintah serta fasilitas umum rusak parah di tiga desa.

Desa-desa itu adalah Dampala, Le Le, dan Desa Siumbatu di Morowali pada 8 Juni 2019.

Di sisi lain, kegiatan tambang juga disebut memicu pencemaran air laut di wilayah Desa Kurisa, Bahodopi.

Air laut tiba-tiba berubah warna menjadi hitam pada Juni 2021.

Diduga, timbunan batu bara yang masif di lokasi itu terseret ke pembuangan air panas pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berdaya 65 x 2 megawatt saat hujan deras dan mengalir langsung ke laut.

“Para nelayan, yang merupakan profesi mayoritas warga Desa Kurisa, adalah pihak yang paling terdampak.

Hasil tangkapan anjlok.

Selama tiga tahun terakhir, ikan di tambak sering mati karena suhu air laut kerap berubah panas,” ucap Melky.

Selain itu, Jatam melihat warga di Desa Fatufia juga telah terpapar debu dari stockpile batu bara berbentuk butiran halus hitam yang bertebaran sampai ke rumah-rumah warga.

Di sisi lain, pada 2014, Jatam mencatat terjadi tumpahan minyak dari salah satu perusahaan di Indonesia yang telah mencemari laut Lampia.

Lalu, pada 2018, Danau Mahalona juga tercemar berat akibat sedimentasi tanah bekas penambangan.

Pada 2016, Jatam menduga ada perampasan lahan pertanian dan tanah masyarakat adat Sorowako, Kecamatan Nuha, Luwu Timur.

Selain itu, ada tindakan kriminalisasi terhadap tujuh aktivis dan masyarakat adat lingkar tambang pada Maret 2022.

Adapun di Weda, investasi dari perusahaan-perusahaan juga telah memicu perampasan lahan dan perusakan lingkungan yang sangat massif.

Perusahaan diduga telah merampas lahan warga Lelilef Sawai yang merupakan kebun warga yang ditanami pala, cengkeh, kelapa dan langsa.

“Praktik ekstraksi nikel di Indonesia, telah memicu hilangnya akses sebagian besar warga atas pangan dan air, berikut eskalasi konflik semakin tinggi dan meluas akibat pencaplokan lahan dan pendekatan keamanan yang represif terhadap warga yang mempertahankan ruang hidupnya,” ucap Jatam.

Tempo telah mengkonfirmasi kritik sejumlah LSM terhadap tambang nikel kepada Kementerian Koordintor Bidang Kemaritiman dan Investasi.

Juga ihwal rencana Tesla membeli nikel dari Indonesia.

Namun hingga berita ini ditulis, Kementerian yang diampu Luhut Binsar Pandjaitan itu belum merespons.

Ikuti berita terkini dari Tempo di Google News, klik di sini.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *